Selasa, 07 Agustus 2012

SUKSES dan KECERDASAN



Oleh Jansen H Sinamo

Kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat. Pertama,
kecerdasan sebagai suatu kemampuan memahami informasi yang
membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan
sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga
masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan
(problems solved) dan dengan demikian pengetahuan pun
bertambah.

Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi
kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif
dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas,
akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih
baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang cerdas
mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.

Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang
yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah)
ternyata kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari
rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Sepuluh Elemen Sukses
Ada dua alasan mengapa hal di atas terjadi. Pertama, bahwa
kecerdasan memang bukan satu-satunya elemen sukses. John
Wareham (1992), umpamanya, mengatakan ada sepuluh unsur
pokok untuk menjadi eksekutif yang sukses yaitu:

(1) kemampuan menampilkan "persona" (topeng) diri yang
tepat,
(2) kemampuan mengelola energi diri yang baik,
(3) kejelasan dan kesehatan sistem nilai pribadi dan
kontrak-kontrak batin,
(4) kejelasan sasaran-sasaran hidup yang tersurat maupun
yang tersirat,
(5) kecerdasan yang memadai (dalam arti penalaran),
(6) adanya kebiasaaan kerja yang baik,
(7) keterampilan antarmanusia yang baik,
(8) kemampuan adaptasi dan kedewasaan emosional,
(9) pola kepribadian yang tepat dengan tuntutan pekerjaan,
dan
(10) kesesuaian tahap dan arah kehidupan dengan espektasi
gaya hidup.

Dale Carnegie (1889-1955), bahkan tidak menyebutkan
kecerdasan secara eksplisit (dalam pengertian umum)
sebagai elemen keberhasilan. Ia mengatakan bahwa untuk
berhasil dibutuhkan sepuluh kualitas yaitu:

(1) rasa percaya diri yang berlandaskan konsep diri yang
sehat,
(2) keterampilan berkomunikasi yang baik,
(3) keterampilan antarmanusia yang baik,
(4) kemampuan memimpin diri sendiri dan orang lain,
(5) sikap positif terhadap orang, kerja, dan diri sendiri,
(6) keterampilan menjual ide dan gagasan,
(7) kemampuan mengingat yang baik,
(8) kemampuan mengatasi masalah, stres, dan kekuatiran,
(9) antusiasme yang menyala-nyala, dan
(10) wawasan hidup yang luas.

Jadi jelaslah bahwa kecerdasan, yang biasanya diukur
dengan skala IQ, memang bukan elemen tunggal atau tiket
menuju sukses. Perlu dicatat di sini bahwa John Wareham
menyimpulkan hal di atas sesudah ia mewawancarai puluhan
ribu calon eksekutif dan mensuplai ribuan eksekutif ke
banyak perusahaan, dalam peranannya sebagai "head hunter".

Dale Carnegie juga tiba pada kesimpulannya sesudah ia
mewawancarai banyak tokoh sukses kontemporer pada jamannya
dan sesudah membaca ribuan biografi dan otobiografi
orang-orang sukses dari segala macam lapangan kehidupan.

Tujuh Macam Kecerdasan
Kedua, kecerdasan umumnya yang kita mengerti sangat
sempit, yaitu hanya berkaitan dengan daya ingat, logika,
atau penalaran. Dr. John Elliot, seorang profesor
pendidikan pada jurusan pengembangan (kecerdasan) manusia
dari Maryland University, dalam seminar pada bulan April
1993 di Jakarta, membahas adanya tujuh macam kecerdasan
yaitu:

Kecerdasan Fisikal: Kecerdasan ini tampil dalam bentuk
kinerja (performance) fisik manusia, seperti pada diri
atlet umpamanya. Mereka yang unggul dalam kecerdasan
fisikal ini mampu mendayagunakan fisik mereka pada taraf
yang mengherankan pada orang-orang biasa. Olahragawan,
pelukis, pengukir, penulis indah, pemain sirkus, dan
penari adalah kelompok-kelompok manusia yang cerdas
fisiknya.

Kecerdasan Ruang-Waktu: Kecerdasan ini membuat seseorang
selalu sadar akan posisi relatifnya dalam koordinat
ruang-waktu. Orang yang tidak cerdas ruang, tetap bingung
akan jalan-jalan di Jakarta, walaupun sudah puluhan tahun
tinggal di Jakarta. Orang yang tersesat, yakni orang yang
mengalami disorientasi ruang, termasuk pula pada golongan
tak cerdas ruang. Sebaliknya pilot, nakhoda, penyelam,
penjelajah alam, pemain bulu tangkis, adalah orang-orang
yang memiliki kecerdasan ruang yang tinggi. Demikian juga
arsitek, insinyur, ahli geometri, fisikawan dan sejarawan.

Kecerdasan Penalaran: Inilah kecerdasan yang secara umum
dikenal luas sebagai kecerdasan. Orang ini mampu memahami
relasi antarbagian dalam realitas yang disadarinya dan
karena itu ia produktif membuat kesimpulan-kesimpulan.
Kecerdasan macam ini juga termasuk kemampuan berpikir
logis dan matematis.

Kecerdasan Verbal: Anak kecil yang sudah pandai berceloteh
dan memiliki vocabulary yang mengherankan pastilah cerdas
secara verbal. Orang-orang yang cari makan dengan
mengandalkan kepiawaian mulutnya, seperti guru, pengacara,
instruktur, orator, master of ceremony, penyiar radio,
komentator olahraga, termasuk penulis, reporter, dan
penyiar adalah golongan orang-orang cerdas verbal.
Orang-orang ini mampu mengekspresikan diri, pikiran, dan
perasaannya lewat rangkaian kata-kata.

Kecerdasan Sosial: Orang yang cerdas secara sosial
seolah-olah mampu membaca orang dengan akurat. Dan bisa
mengetahui persis apa isi hati, suasana hati, dan
keinginan orang lain. Karena itu, ia dapat dengan mudah
menyesuaikan diri, mengambil hati, mempengaruhi, dan
termasuk memimpin orang lain. Konflik antarpribadi,
pertengkaran, ketakharmonisan hubungan, dan semacamnya,
banyak berpangkal pada ketakcerdasan sosial yang
bersangkutan.

Kecerdasan Musikal: Kecerdasan ini membuat seseorang mampu
memahami, menghayati, dan mengekspresikan nada, irama, dan
suara dalam bentuk musikal yang estetik. Musikus dalam
segala bentuknya, termasuk seniman pada umumnya, tentulah
termasuk kaum cerdas musikal.

Kecerdasan Etis-Spiritual: Orang cerdas di bidang ini
mampu mengerti hal ikhwal spiritual. Tidak saja dalam
pengertian bahwa ia memahami dunia spiritual, tapi lebih
pada kemampuannya menampilkan sikap dan praktik hidup yang
harmonis dengan nilai-nilai fundamental yang secara tajam
diketahuinya. Hati nuraninya bening, suara batinnya tajam,
dan mata hatinya awas dalam membedakan apa yang baik dari
yang tidak baik, dan membedakan apa yang baik, yang
terbaik, dan yang sempurna. Orang yang unggul di bidang
ini pada akhirnya menampilkan diri sebagai pribadi yang
bijak bestari, penuh hikmat, agung, dan berwibawa.

Menurut Prof. Elliot, semua manusia memiliki ketujuh macam
kecerdasan ini dengan kombinasi kualitas yang berbeda dari
orang ke orang. Dengan demikian mudah dipahami adanya
kenyataan yang kita lihat seperti orang yang goblok ruang
tapi cerdas musikal, dosen jenius matematika tapi
sontoloyo dalam mengajar.

Di lain pihak kita juga dapat menjumpai orang multi
cerdas: pintar bergaul, jenius fisika, piawai main biola,
luhur budi pekerti, serta canggih dalam mengajar. Einstein
konon
termasuk dalam kategori ini.

Jika kita bandingkan tujuh macam kecerdasan di atas dengan
sepuluh kunci sukses menurut Wareham dan Carnegie,
tampaklah bahwa banyak di antaranya merupakan fungsi dari
salah satu kecerdasan tersebut. Karena itu dapatlah
disimpulkan bahwa kecerdasan merupakan suatu elemen kunci
untuk berhasil, karena dengannya kita dimampukan untuk
mengenal teritori permainan, diri kita sendiri, mitra
tanding kita, aturan permainan, serta jebakan-jebakan
pertandingan yang lazim. Olehnya kita juga mampu menyusun
strategi permainan yang membawa kita kepada kemenangan
akhir. Namun tetap perlu kita catat, kecerdasan bukanlah
segalanya. Masih ada hal-hal lain yang bukan termasuk
kategori kecerdasan pada daftar Wareham dan Carnegie.

Petunjuk Meningkatkan Kecerdasan
Sebelum kita lihat beberapa cara untuk meningkatkan
kecerdasan yang tujuh macam tersebut, ada baiknya kita
lihat dahulu struktur kecerdasan tersebut yang terdiri
dari dua bagian:

Bagian pertama ialah informasi atau pengetahuan itu
sendiri. Ini kita peroleh melalui pengalaman dan
pendidikan.

Bagian kedua ialah mengolah informasi, terdiri dari
penalaran, penilaian, dan kreativitas.
Mudah dipahami, memang sebagian kecerdasan, kita warisi
secara genetis. Warisan semacam ini umumnya kita sebut
sebagai bakat. Tetapi bagian terbesar dari kecerdasan
adalah hasil usaha. John Dewey mengatakan bahwa kecerdasan
bukanlah sesuatu yang kita miliki dan tak berubah
selamanya, melainkan kecerdasan adalah suatu proses
pembentukan yang berkesinambungan, dan untuk
mempertahankannya diperlukan semacam kewaspadaan untuk
mengamati kejadian-kejadian, keterbukaan untuk belajar,
dan keberanian untuk menyesuaikan diri.

Jadi untuk meningkatkan kecerdasan, kita perlu menambah
pengetahuan dan berlatih memproses pengetahuan itu lewat
kegiatan kreatif, kegiatan menalar, dan kegiatan
mengevaluasi atau menilai. Dari penjelasan yang sederhana
ini maka beberapa hal di
bawah ini akan menolong kita untuk meningkatkan kecerdasan
kita:

1. Mengadakan evaluasi diri.
Meneliti kekuatan dan kelemahan diri sendiri, tepatnya
menyusun peringkat kecerdasan kita, yang mana dari yang
tujuh tersebut paling kuat, kedua paling kuat, dan
seterusnya.

2. Menetapkan cita-cita atau sasaran hidup.
Cita-cita yang jelas akan membangkitkan semangat dan
antusiasme. Cita-cita yang memikat bagi diri sendiri mampu
melahirkan daya juang. Semangat, antusiasme, dan daya
juang adalah tiga serangkai yang membuat kita produktif
belajar dengan demikian kecerdasan kita diasah. Dari
sekian banyak cita-cita, maka salah satunya ialah kita
harus mencita-citakan menjadi orang cerdas dan ingin
dikenal orang sebagi orang cerdas.

3. Membangun suatu kebiasaaan hidup cerdas, umpamanya
membaca, berdiskusi, olah pikir, olah rasa, dan olah raga.

4. Membangun sikap keterbukaan-kritis.
Sikap terbuka membuat kita mampu menerima ide-ide baru,
ilmu-ilmu baru, dan pengertian-pengertian baru. Tapi
jangan terlalu terbuka supaya kita masih mungkin membuat
sintesa dari pertemuan sejumlah ide-ide yang berlainan.
Jadi kita juga harus kritis, artinya mampu mempertanyakan
apa saja yang memasuki alam pikiran kita. Tapi jangan
terlalu kritis yang membuat kita jadi tertutup, kaku, dan
merasa benar sendiri. Yang pas adalah terbuka dan kritis.

5. Membangun suatu sikap belajar positif terhadap apapun
yang kita alami.
Pengalaman, kata Aldous Huxley, bukanlah
peristiwa-peristiwa yang menimpa kita, melainkan apa yang
kita lakukan terhadap peristiwa-peristiwa itu. Hanya
dengan sikap belajar positif inilah kita dapat bertambah
cerdas sesudah mengalami suatu peristiwa, yaitu pengalaman
kita jadikan sebagai guru. Pengalaman, katanya, adalah
guru terbaik.

6. Membangun sikap yang rendah hati.
Air selalu mengalir ke tempat yang rendah, demikian pula
hikmat dan pengetahuan mengalir menuju hati yang rendah.

Penutup
Saya harap, sesudah membaca artikel ini, Anda sekalian
akan bertambah cerdas. Bila Anda berhasil melihat
ketaklengkapandan kekurangan artikel ini dan sekalian
melengkapinya, berarti Anda adalah orang yang sangat
cerdas. Tapi bila Anda tidak merasa dicerdaskan
sedikitpun, itu berarti sayalah yang kurang cerdas,
sedikitnya kurang cerdas dalam hal penalaran dan verbal.
Doakanlah supaya saya tambah cerdas. Dengan berbuat
demikian, kecerdasan etis-spiritual Anda akan
ditingkatkan. Artinya upaya membaca artikel ini sama
sekali tak sia-sia.

================================================================================\
===========
Gunakan layanan download ringtone dan wallpaper dari Fun Dering dari PlasaCom
untuk menambah keceriaan di handphone Anda... http://fun.plasa.com
================================================================================\
===========


Tidak ada komentar: