Selasa, 07 Agustus 2012

KOPI ASIN


Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta. Si gadis
tampil luar biasa cantik. Banyak lelaki yang mencoba mengejar si
gadis. Si pria sebaliknya, tampil biasa saja dan tak ada yang begitu
memperhatikannya. Tapi, saat pesta usai, dia memberanikan diri
mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis
agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, dia mengangguk.
Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop. Si pria sangat
gugup, tangannya acap bergetar dan dia tak berkata apa pun. Si gadis
yang merasakan ketegangan itu, kian tak nyaman. Dia pun
berkata, "Tidakkah kita lebih baik pulang saja?" Namun, tiba-tiba
pria itu berkata, untuk pertama kalinya, sambil melambai pada
pelayan, "Bisa minta garam untuk kopi saya?" Semua orang yang
mendengar, memandang dengan aneh ke arah si pria itu. Si pria,
jelas, wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam
tersebut ke dalam kopinya, dan dengan tenang, meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi seperti
ini?" Si pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah
pantai dekat laut. Saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan
air laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini.
Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak
saya: ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya,
saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana."

Begitu kalimat terakhir usai, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan
si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di
hadapannya. Si gadis berpikir, bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu
kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan
rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga
mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh
di sana, masa kecilnya, dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang
hangat, juga menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka
berdua. Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan
bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala
permintaannya: dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat
perduli.... betul-betul seseorang yang sangat baik. Ah, dia hampir
saja kehilangan seorang lelaki seperti itu. Untung ada kopi asin.

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta, sang
putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia
selamanya. Dan setiap sang putri membuat kopi untuk sang pangeran,
ia selalu membubuhkan garam di dalamnya, bukan gula, karena ia tahu
bahwa itulah yang disukai suaminya. Setelah 40 tahun, si pria
meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat. Dengan gemetar, si
istri membaca surat itu:

"Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur
hidupku bersamamu adalah dusta belaka. Meski hanya sebuah kebohongan
yang aku katakan padamu... tentang kopi asin. Ingat sewaktu kita
pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu. Sebenarnya
saya ingin minta gula, tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi
saya untuk mengubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa
tidaknyaman. Jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa
hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Awal keakraban dan
mata cinta kita. Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini,
untuk menjelaskannya padamu, tapi saya terlalu takut. Karena saya
telah berjanji untuk tidak berbohong, sekali pun. Sekarang saya
sekarat. Saya tidak takut apa-apa lagi, jadi saya katakan padamu
yang sejujurnya: saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan
rasanya sungguh tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur
hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekali pun
menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu
adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat
hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan
memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu
lagi."

Air mata si istri betul-betul membuat surat itu menjadi basah.
Kemudian hari, bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya
minum kopi pakai garam? Si gadis pasti menjawab, "rasanya manis,"
dengan senyuman, dan dua titik air mata di pipi.

[meski udah usang kayaknya masih enak kok dibaca lagi]


Tidak ada komentar: